Menapak Jejak Pindampingan : KU INGIN JEJAKKU BERMAKNA
Inilah yang aku pahami saat memutuskan untuk menorehkan tulisan singkat tentang aktivitas pendampingan wirausaha yang sedang aku jalani. Bertahun sudah terlewati tanpa sepenggalpun jejak cerita ditorehkan. Dan di kesempatan ini, ijinkan aku berbagi...
A.
Momen bergabung menjadi pendamping wirausaha
desa
Awalnya aku terusik dengan teman-teman yang
berlomba mencari sertifikat pendamping UMKM. Karena aku cukup sering mengadakan
kegiatan uji kompetensi untuk instruktur, maka teman-teman juga bertanya
padaku. Satu orang, dua orang... tiga orang... berturut-turut. Ada apakah
gerangan? Dari salah satu teman aku mendapat informasi bahwa sedang ada
rekruitmen program Pendampingan WiraUsaha Desa dari Kemenkop. Nah, karena aku
merasa memenuhi persyaratan maka aku memberanikan diri mendaftar. 1 minggu... 2
minggu tak ada kabar. Setelah itu ada informasi bahwa aku diterima menjadi
bagian Team Pendamping Wirausaha Desa di kabupaten Malang.
B.
Mampukah Aku?
Saat mendapat informasi mengenai tugas yang
harus dilakukan. Aku terpekur, termenung beberapa saat lamanya. Mampukah aku
mengembah amanah ini? Mendampingi teman-teman umkm yang jumlahnya 40 ukm dari
berbagai usaha. Mampukah aku memanajemen waktuku yang 24 jam ini untuk kegiatan
ini, berbagi dengan kesibukan lain yang menjadi rutinitas sehari-hari.
Tetapi ada tekad kuat untuk memberikan
bakti pada negeri. Mungkin inilah jalannya. Kumulai dengan kebulatan hati.
Percaya bahwa Sang Maha Hidup akan
selalu menjaga.
C.
Amunisi yang harus dimiliki seorang pendamping
Sebenarnya bukan hal baru menjadi seorang
pendamping umkm. Karena sudah kujalani sejak beberapa tahun terakhir ini.
Tetapi untuk program ini cukup istimewa. Karena jumlah peserta yang cukup
banyak dalam sekali waktu, dan model pendampingan yang berbeda dari sebelumnya.
Program ini memberikan warna baru dalam dunia pelatihan dan pendampingan, yaitu
dengan berjalan paralel tatap muka dan online. Hal baru ini menarik, tetapi
menjadi tantangan tersendiri. Karena tidak semua peserta menjadi nyaman.
Tingkat interaksi juga harus terbagi. Nah inilah yang membuat sesi pendampingan
harus menjadi ujung tombak perubahan.
Saat memutuskan untuk aktif di dunia
pendampingan umkm, aku tak menyangka banyak pintu tiba-tiba terbuka begitu
saja. Banyak akses yang selama ini hanya di angan-angan seperti memanggilku
untuk menempuh jalannya. Banyak sekali kesempatan-kesempatan yang
berturut-turut datang. Dan seolah memberi pesan... ini bekalmu... ugemi, sampaikan
dan jadilah bermanfaat untuk siapapun yang membutuhkanmu.
Aku menjadi semakin semangat menata diri.
Memperbanyak literasi, belajar dari program ke program. Mulai membuat Ide
Usaha, Rencana Bisnis, Pemasaran, Legalitas, Digital Marketing, Keuangan, SDM
dan banyak lainnya lagi. Beruntung pintu ajaib itu (kusebut pintu kemana saja,
red) mendekatkan aku yang di daerah dengan akses ke pemerintahan pusat dan
jajaran kementerian.
Mulai progam pendampingan legalitas usaha
NIB, PIRT dari BKPM dan Kemenkop melalui Garda Transfumi, Fasilitator Nasional
BPOM, Trainer SNI dari BSN dan lain sebagainya.
Bekal inilah yang aku bawa saat turun ke
lapangan untuk berbagi dengan umkm. Yang perijinannya belum lengkap kita pandu,
yang belum punya perencanaan usaha kita arahkan, yang pemasarannya masih belum
optimal kita dorong untuk terus
berprogres, yang keuangannya belum tercatat, kita bimbing. Targetnya adalah
mereka ada progres before dan after.
D.
Pendampingan adalah sebuah proses katalisator
Aku mempelajari bahwa proses pendampingan
ini adalah proses katalisator, suatu proses yang mempercepat tercapainya suatu
tujuan bisnis. Apabila ukm menempuhnya seorang diri akan membutuhkan waktu
lama, banyak yang tak tahu arah, maka ketika ada pendampingnya, maka akan ada
yang mengarahkan, sehingga waktu tempuhnya menjadi lebih cepat.
E.
Kekuatan Berjejaring
Kata Dilan, sendiri itu berat... yuk
bergandengan
Agar lebih kuat dan tangguh
#pendampingan #digitalmarketing #wirausaha
#pelatihan #ujikom #umkm
Komentar
Posting Komentar